Kaget dan termenung seketika. Itu yang terjadi pada diri saya semalam. Pada blog saya yang terdahulu saya sudah bercerita mengenai penyakit insomnia saya yang ga ketulungan itu bukan? Nah belakangan ini saya menemukan salah satu obat yang cukup mujarab supaya waktu tidur saya lebih cepat. Cara itu adalah membaca buku. Dengan membaca buku, majalah, atau komik, hanya dalam 5 menit, voila!, mata saya langsung berair dan turun tegangannya jadi 2,5 watt!!.
Tapi apa yang membuat saya kaget dan termenung? Saya yakin anda bertanya-tanya (atau nggak?), tiba-tiba saya berpikir, kenapa kebiasaan membaca saya yang sudah terbentuk dari saya sekolah dasar ini menjadi obat pemicu tidur saya? Padahal dulu, tidur saya bisa delay 2 jam atau bahkan lebih gara-gara saya membaca novel atau komik, karena rasa penasaran saya peda akhir ceritanya. Kenapa tadi malam satu halaman majalah Reader Digest pun saya tak habis membacanya? Sungguh saya terheran-heran..Apa karena usia saya yang bertambah tua sehingga metabolisme dalam tubuh yang semakin melambat, jadi membaca pun saya terkantuk-kantuk? atau karena kebiasaan membaca buku saya yang kurang ditingkatkan? Hmmm..mungkin options ke dua lebih menjawab pertanyaan dan keheranan saya ini..
Selasa, 13 Januari 2009
Rabu, 07 Januari 2009
menjadi skeptis? TIDAAAAAK!!
Sempat terlintas di kepala saya.."kok saya semakin hari semakin skeptis ya?"
Hmm..Skeptis..apa itu skeptis? yah, kurang lebih hampir sejenis dengan berpikiran negatif sepertinya, bagi seseorang yang skeptis, tidak ada yang benar di matanya, walaupun dia tidak menganggap hanya dialah yang paling benar juga sih, tetapi selalu menganggap hal lain itu tidak sempurna dan pasti ada yang lebih sempurna. Hmm, penjelasan tentang skeptis yang cukup detil tapi sedikit absurd ya sepertinya, tapi ya kurang lebih seperti itu.
Gejala-gejala menuju ke-skeptis-an dalam diri saya belakangan ini muncul. Entah ini sebuah karma atau memang saya dikodratkan untuk menjadi itu. Karena saya SELALU tidak suka melihat orang-orang yang terlalu berpikiran over-kritis, menganggap hal lain itu salah dan melecehkannya. Eh, kenapa saya belakangan ini merasa sedikit bertindak yang mengarah kesana ya???
Ini adalah hal yang sangat serius bagi saya, saya tidak mau hal berunsur "karma" ini terulang lagi dalam hidup saya. Jujur, ayah saya adalah orang yang berpikiran skeptis, salah satu contohnya, pada saat pemilihan gubernur Jawa Barat, salah satu calonnya (pada saat itu belum terpilih) sebagai wakil adalah Dede Yusuf, yang adalah seorang artis. Pada suatu hari saya dan ayah saya tercinta (walaupun dia skeptis menurut saya) menonton berita yang menampilkan si artis tersebut, dan ayah saya berkomentar seperti ini, "nanti kalo dia jadi wagub, narkoba jadi legal dong?!" nah! apa coba hubungannya??? Katanya, "kan si dede yusuf artis, nah artis kan sering pake narkoba, kalo dia jadi wagub berarti narkoba kan jadi legal!"Lantas saya, seorang yang selalu dihadapi hal seperti ini dari ayah saya sedari saya masih buntet (masih) dulu..langsung memberi argumen, malas rasanya saya tuliskan disini, hanya bikin emosi saja, yah pokoknya intinya saya mengatakan kalo itu sangat jauh kaitannya yow my sceptical poppa!!!!!
Ohya..saya belum menjelaskan kenapa saya bilang di atas bahwa saya tidak ingin karma terulang kembali. Jadi begini loh, saya dulu sangaaaat teramat sangaaaat BENCI dengan yang namanya PEROKOK, lagi-lagi korban kebencian saya adalah ayah saya, dia adalah PEROKOK dengan JAM TERBANG yang cukup TINGGI dan LAMA..sampe-sampe dulu kalau dia lagi merokok saya selalu sindir-sindir tentang betapa ruginya menjadi perokok pasif..EEEEH...saya kena karma, SAYA JADI PECINTA ROKOK, especially DUNHILL LIGHT MENTHOL..ya Allah,,saya memang anak yang durhaka!
Well, anyway, jadi saya harus bagaimana ini..Oh iya sedari tadi saya belum sempat bercerita gejala-gejala apa saja yang membuat saya berpikir bahwa saya menuju skeptis. Hmm, ambil contoh begini, di saat saya melihat sekitar dan saya berpikir bahwa ada yang tidak beres disana, lantas otak saya mengulik segalanya, sampai seringkali mengacu pada sebuah kesimpulan yang membuat saya menilai sesuatu itu buruk dan sangat tidak pantas untuk eksis di dunia ini, misalnya, nah saya menganggap bahwa saya sudah terlalu berlebihan untuk menilai hal-hal yang terjadi di sekitar saya, tidak perlu saya sebutkan disini, karena terlalu banyak! Yang pasti itu semua untungnya baru terjadi hanya dalam kepala saya, semua konversasi yang terjadi hanyalah antara saya dan gue, saya si baik hati penyabar dan tidak sombong tetapi tetap narsis dengan segala ketaurusannya, sedangkan si gue adalah diri saya yang lain yang merasa sok asik, selalu merasa ada saja yang salah setiap kali melihat sesuatu, tetapi si gue ini memiliki kesamaan dengan si saya, sama-sama narsis dengan ketaurusannya. haha..
well..well..sepertinya saya harus berperang konversasi di dalam kepala dengan si gue. Dan saya harus meyakini si gue bahwa itu bukanlah sebuah ke-skeptis-an, melainkan hanya sebuah cara berpikir yang kritis, tetapi jangan sampai menjadi over-kritis, dan menjadi kritis adalah bagus!
hmm..di tulisan ini kesannya saya sedang mencari jawaban dan bantuan hingga ingin pergi ke psikiater saja rasanya, dan ternyata saya malahan berbicara dengan diri sendiri..yang akhirnya jawabannya pun dari diri saya sendiri..dasar saya sudah gila, loh tiba-tiba saya butuh psikiater beneran sepertinya!
Hmm..Skeptis..apa itu skeptis? yah, kurang lebih hampir sejenis dengan berpikiran negatif sepertinya, bagi seseorang yang skeptis, tidak ada yang benar di matanya, walaupun dia tidak menganggap hanya dialah yang paling benar juga sih, tetapi selalu menganggap hal lain itu tidak sempurna dan pasti ada yang lebih sempurna. Hmm, penjelasan tentang skeptis yang cukup detil tapi sedikit absurd ya sepertinya, tapi ya kurang lebih seperti itu.
Gejala-gejala menuju ke-skeptis-an dalam diri saya belakangan ini muncul. Entah ini sebuah karma atau memang saya dikodratkan untuk menjadi itu. Karena saya SELALU tidak suka melihat orang-orang yang terlalu berpikiran over-kritis, menganggap hal lain itu salah dan melecehkannya. Eh, kenapa saya belakangan ini merasa sedikit bertindak yang mengarah kesana ya???
Ini adalah hal yang sangat serius bagi saya, saya tidak mau hal berunsur "karma" ini terulang lagi dalam hidup saya. Jujur, ayah saya adalah orang yang berpikiran skeptis, salah satu contohnya, pada saat pemilihan gubernur Jawa Barat, salah satu calonnya (pada saat itu belum terpilih) sebagai wakil adalah Dede Yusuf, yang adalah seorang artis. Pada suatu hari saya dan ayah saya tercinta (walaupun dia skeptis menurut saya) menonton berita yang menampilkan si artis tersebut, dan ayah saya berkomentar seperti ini, "nanti kalo dia jadi wagub, narkoba jadi legal dong?!" nah! apa coba hubungannya??? Katanya, "kan si dede yusuf artis, nah artis kan sering pake narkoba, kalo dia jadi wagub berarti narkoba kan jadi legal!"Lantas saya, seorang yang selalu dihadapi hal seperti ini dari ayah saya sedari saya masih buntet (masih) dulu..langsung memberi argumen, malas rasanya saya tuliskan disini, hanya bikin emosi saja, yah pokoknya intinya saya mengatakan kalo itu sangat jauh kaitannya yow my sceptical poppa!!!!!
Ohya..saya belum menjelaskan kenapa saya bilang di atas bahwa saya tidak ingin karma terulang kembali. Jadi begini loh, saya dulu sangaaaat teramat sangaaaat BENCI dengan yang namanya PEROKOK, lagi-lagi korban kebencian saya adalah ayah saya, dia adalah PEROKOK dengan JAM TERBANG yang cukup TINGGI dan LAMA..sampe-sampe dulu kalau dia lagi merokok saya selalu sindir-sindir tentang betapa ruginya menjadi perokok pasif..EEEEH...saya kena karma, SAYA JADI PECINTA ROKOK, especially DUNHILL LIGHT MENTHOL..ya Allah,,saya memang anak yang durhaka!
Well, anyway, jadi saya harus bagaimana ini..Oh iya sedari tadi saya belum sempat bercerita gejala-gejala apa saja yang membuat saya berpikir bahwa saya menuju skeptis. Hmm, ambil contoh begini, di saat saya melihat sekitar dan saya berpikir bahwa ada yang tidak beres disana, lantas otak saya mengulik segalanya, sampai seringkali mengacu pada sebuah kesimpulan yang membuat saya menilai sesuatu itu buruk dan sangat tidak pantas untuk eksis di dunia ini, misalnya, nah saya menganggap bahwa saya sudah terlalu berlebihan untuk menilai hal-hal yang terjadi di sekitar saya, tidak perlu saya sebutkan disini, karena terlalu banyak! Yang pasti itu semua untungnya baru terjadi hanya dalam kepala saya, semua konversasi yang terjadi hanyalah antara saya dan gue, saya si baik hati penyabar dan tidak sombong tetapi tetap narsis dengan segala ketaurusannya, sedangkan si gue adalah diri saya yang lain yang merasa sok asik, selalu merasa ada saja yang salah setiap kali melihat sesuatu, tetapi si gue ini memiliki kesamaan dengan si saya, sama-sama narsis dengan ketaurusannya. haha..
well..well..sepertinya saya harus berperang konversasi di dalam kepala dengan si gue. Dan saya harus meyakini si gue bahwa itu bukanlah sebuah ke-skeptis-an, melainkan hanya sebuah cara berpikir yang kritis, tetapi jangan sampai menjadi over-kritis, dan menjadi kritis adalah bagus!
hmm..di tulisan ini kesannya saya sedang mencari jawaban dan bantuan hingga ingin pergi ke psikiater saja rasanya, dan ternyata saya malahan berbicara dengan diri sendiri..yang akhirnya jawabannya pun dari diri saya sendiri..dasar saya sudah gila, loh tiba-tiba saya butuh psikiater beneran sepertinya!
Selasa, 06 Januari 2009
wow
wah! saya memang keterlaluan ya, meninggalkan blog saya ini hampir satu bulan lamanya. wuuiih. mungkin karena belakangan ini saya terlalu sibuk (alasan), atau sudah terlalu terlena dengan tumblr, heheh. Saya pecinta quote, dan foto, di sana saya tidak perlu bertutur panjang lebar seperti disini. Walaupun, saya merasa di sana kurang etis sepertinya bertutur panjang seperti di sini. Jadi intinya saya tetap butuh blog ini. yeeaaay!
Hmm, jadi teringat kejadian hari ini, sedikit bercerita yah, atau banyak juga boleh dong yah, orang blog saya ini, suka-suka saya dong! (loh kok saya jadi nyolot?). Tadi saya dimintai seorang teman untuk menemani dia berburu henpon, atau bahasa EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)-nya telepon genggam, di salah satu pusat barang-barang elektronik di kota saya. Putar sana-putar sini, kerjaan saya hanya mengikuti dia saja, udah kayak angkot aja saya, tiba-tiba berhenti karena teman saya itu ternyata nyangkut di salah satu konter henpon. Selama menemani teman saya itu, saya banyak memperhatikan sekitar, bapak-bapak yang marah-marah karena sudah jauh-jauh datang dari Lembang tapi henpon dia tidak bisa dapat garansi lah, mbak-mbak penjaga konter yang lagi ccp (curi-curi pandang) sama mas-mas penjaga konter di seberangnya-lah, sampai di akhir perjalanan saya menarik benang merahnya dari seluruh pelayanan di konter-konter henpon yang saya dan teman saya sambangi, bahwa rata-rata para penjual henpon tidak capable dalam menjual barang mereka. Contohnya nih ya, teman saya itu tadi ingin tahu masalah tampilan menu di salah satu tipe henpon, eh dia malah promosi betapa besarnya megapixel kamera itu, lalu teman saya nanya perbandingan antara merk A dan B lebih "tahan banting" yang mana, eh mereka semua malah menjawab "ya kalo di banting mah semua merk juga bisa rusak neng" padahal kan yang teman saya maksud itu bukan tahan banting buat di banting atau dilempar beneran..hhh
Tapi akhirnya saya dan teman saya sampai ke pemberhentian terakhir dimana itu adalah tempat saya dan teman saya dulu membeli henpon-henpon kami. Beruntung tidak dihadapi oleh mbak-mbak atau mas-mas yang tidak capable seperti sebelumnya. Dan teman saya pun akhirnya mendapatkan henpon yang sesuai dengan seleranya, yeeaay!
Hmm, jadi teringat kejadian hari ini, sedikit bercerita yah, atau banyak juga boleh dong yah, orang blog saya ini, suka-suka saya dong! (loh kok saya jadi nyolot?). Tadi saya dimintai seorang teman untuk menemani dia berburu henpon, atau bahasa EYD (Ejaan Yang Disempurnakan)-nya telepon genggam, di salah satu pusat barang-barang elektronik di kota saya. Putar sana-putar sini, kerjaan saya hanya mengikuti dia saja, udah kayak angkot aja saya, tiba-tiba berhenti karena teman saya itu ternyata nyangkut di salah satu konter henpon. Selama menemani teman saya itu, saya banyak memperhatikan sekitar, bapak-bapak yang marah-marah karena sudah jauh-jauh datang dari Lembang tapi henpon dia tidak bisa dapat garansi lah, mbak-mbak penjaga konter yang lagi ccp (curi-curi pandang) sama mas-mas penjaga konter di seberangnya-lah, sampai di akhir perjalanan saya menarik benang merahnya dari seluruh pelayanan di konter-konter henpon yang saya dan teman saya sambangi, bahwa rata-rata para penjual henpon tidak capable dalam menjual barang mereka. Contohnya nih ya, teman saya itu tadi ingin tahu masalah tampilan menu di salah satu tipe henpon, eh dia malah promosi betapa besarnya megapixel kamera itu, lalu teman saya nanya perbandingan antara merk A dan B lebih "tahan banting" yang mana, eh mereka semua malah menjawab "ya kalo di banting mah semua merk juga bisa rusak neng" padahal kan yang teman saya maksud itu bukan tahan banting buat di banting atau dilempar beneran..hhh
Tapi akhirnya saya dan teman saya sampai ke pemberhentian terakhir dimana itu adalah tempat saya dan teman saya dulu membeli henpon-henpon kami. Beruntung tidak dihadapi oleh mbak-mbak atau mas-mas yang tidak capable seperti sebelumnya. Dan teman saya pun akhirnya mendapatkan henpon yang sesuai dengan seleranya, yeeaay!
Langganan:
Postingan (Atom)
