Lebih dari seminggu yang lalu pecahlah sebuah tragedi yang cukup geger di wilayah barat nusantara. Meninggalnya Ketua DPRD Sumatera Utara Abdul Azis Angkat, setelah terjadi demo besar-besaran yang melibatkan 500 orang pengunjuk rasa yang mayoritas adalah mahasiswa dari Universitas Sisimangaraja. Usut punya usut, demo ini didalangi oleh G.M Chandra Panggabean, anak dari G.M Panggabean salah satu pempimpin perusahaan media cetak ternama di Medan sana yang hingga saat ini masih buron. Demo yang sungguh teramat not well-educated ini, menuntut agar pembentukan Provinsi Tapanuli tidak diperlambat prosesnya.
Sekali waktu, sekitar satu jam menuju pukul dua belas malam saya menyaksikan acara "Metro Realitas", tanpa menyebut stasiun televisinya, saya yakin anda tahu, ketika itu ditampilkan cuplikan Chandra Panggabean yang diwawancara oleh wartawan televisi itu. Menurutnya, demo ini dilakukan karena mereka ingin menuntut kepada Ketua DPRD Abdul Azis Angkat agar segera menandatangani surat pengesahan pembentukan Provinsi Tapanuli Baru tersebut, karena hanya itulah satu-satunya syarat yang tertinggal menuju terbentuknya Provinsi tersebut.
Di siaran "Metro Realitas" tersebut terangkum seluruh tragedi pemekaran Provinsi Tapanuli ini secara kronologis dan padat. Mulai dari arak-arakan pengunjuk rasa yang dipimpin Chandra Panggabean di barisan terdepan. Kemudian, ditampilkan juga cuplikan video saat ratusan mahasiswa memberangus ke dalam ruang sidang di kantor DPRD. Mereka mengusung peti mati yang di dalamnya terdapat seorang yang diibaratkan adalah Ketua DPRD Sumut, Abdul Azis Angkat. Entah apa maksud dari aksi tersebut, yang jelas aksi mereka terlihat seperti telah merencanakan kematian Ketua DPRD itu. Ruangan sidang orak poranda tak keruan, yang terlihat hanyalah ratusan manusia bersorak sorai tetapi bukan tanda riang gembira. Bagaikan teror dadakan di siang hari, saya bisa membayangkan betapa mencekamnya situasi di sana ketika itu. Kemudian diperlihatkan pula saat Abdul Azis Angkat berusaha keluar dari wilayah kantor DPRD Sumut, dan terjebak di antara pagar besi dan lautan manusia, dimana tidak adanya penjagaan yang ketat diperolehnya saat itu, hanya beberapa anak buahnya yang berusaha menjaganya, tetapi tanpa kawalan polisi atau sekuriti. Beberapa pengunjuk rasa yang emosinya meluap-luap pun memukulinya di dada. Tanpa kompromi!! Tanpa memikirkan bahwa mereka telah melakukan tindakan "main hakim sendiri"!!! Yang notabene sudah diajarkan sejak masa sekolah dasar dulu dalam mata pelajaran Pendidikan Mata Pancasila mengenai moral. Ironisnya ini dilakukan oleh kaum intelektual, mahasiswa, yang sangat jelas menunjukkan identitas mereka dengan mengenakan jas almamater kuning strip hitam yang mereka sandang dengan bangganya, cuih!!!
Beberapa saat kemudian ditampilkan cuplikan Abdul Azis Angkat digotong ke dalam ambulance karena tak sadarkan diri dan dikabarkan meninggal dunia. Saya sempat melihat bibirnya biru saat dia diangkut ke dalam ambulance. Sejenak setelah saya melihat tayangan itu bulu kuduk saya merinding, saya sangat sedih, marah dan pikiran-pikiran lain campur aduk di kepala saya. Mengapa demokrasi yang sejak dulu diusung dan dipuja sebagai prinsip negara kita, semena-mena ditoreh noda kematian sebagai akibat dari hasil demokrasi itu sendiri? Dengan mengatasnamakan demokrasi, anarki pun meluluh-lantakkan dunia perpolitikan Indonesia. Tidak sedikit jumlah acara demo yang berujung anarki. Apakah anarki harus menjadi persinggahan terakhir untuk menikmati seteguk kemerdekaan dan sesendok kebebasan beraspirasi? Sungguh bodoh!! Bukan berarti saya pintar!! Tapi saya tidak cukup naif untuk berpendapat seperti ini. Ini negara saya juga, saya bebas berkomentar mengenai apa yang terjadi. Dengan terjadinya tragedi ini, semakin mengindikatorkan bahwa bangsa kita belum mampu untuk berubah ke arah yang lebih baik. Masih banyak rakyatnya yang masih belum tahu cara menyampaikan aspirasi. Semuanya pasti berujung emosi. Ini akan membuat negara kita semakin bodoh, dan bisa jadi mudah dibodoh-bodohi. Mahasiswa mudah saja dihasut untuk berlaku anarki seperti ini, hanya mendapat bayaran dua puluh lima ribu rupiah saja per orang. Kemana perginya julukan kaum intelektual sama dengan mahasiswa? Jangan sampai saya memperlebar wacana ini ke arah "tidak becusnya institusi pendidikan di Indonesia," karena saya berada di dalam salah satu institusi tersebut. Selain itu, saya juga tidak punya cukup waktu untuk melakukan perlebaran topik. Lain waktu mungkin.
Sungguh, sebenarnya saya bukan seorang nasionalis, dengan kejadian seperti ini membuat saya semakin tidak nasionalis. Tetapi dengan menulis ini, membuat saya merasakan sisi nasionalis saya muncul. Mungkin secara tidak sadar, saya masih memiliki sisi itu dalam diri saya. Syukurlah.
Sekali waktu, sekitar satu jam menuju pukul dua belas malam saya menyaksikan acara "Metro Realitas", tanpa menyebut stasiun televisinya, saya yakin anda tahu, ketika itu ditampilkan cuplikan Chandra Panggabean yang diwawancara oleh wartawan televisi itu. Menurutnya, demo ini dilakukan karena mereka ingin menuntut kepada Ketua DPRD Abdul Azis Angkat agar segera menandatangani surat pengesahan pembentukan Provinsi Tapanuli Baru tersebut, karena hanya itulah satu-satunya syarat yang tertinggal menuju terbentuknya Provinsi tersebut.
Di siaran "Metro Realitas" tersebut terangkum seluruh tragedi pemekaran Provinsi Tapanuli ini secara kronologis dan padat. Mulai dari arak-arakan pengunjuk rasa yang dipimpin Chandra Panggabean di barisan terdepan. Kemudian, ditampilkan juga cuplikan video saat ratusan mahasiswa memberangus ke dalam ruang sidang di kantor DPRD. Mereka mengusung peti mati yang di dalamnya terdapat seorang yang diibaratkan adalah Ketua DPRD Sumut, Abdul Azis Angkat. Entah apa maksud dari aksi tersebut, yang jelas aksi mereka terlihat seperti telah merencanakan kematian Ketua DPRD itu. Ruangan sidang orak poranda tak keruan, yang terlihat hanyalah ratusan manusia bersorak sorai tetapi bukan tanda riang gembira. Bagaikan teror dadakan di siang hari, saya bisa membayangkan betapa mencekamnya situasi di sana ketika itu. Kemudian diperlihatkan pula saat Abdul Azis Angkat berusaha keluar dari wilayah kantor DPRD Sumut, dan terjebak di antara pagar besi dan lautan manusia, dimana tidak adanya penjagaan yang ketat diperolehnya saat itu, hanya beberapa anak buahnya yang berusaha menjaganya, tetapi tanpa kawalan polisi atau sekuriti. Beberapa pengunjuk rasa yang emosinya meluap-luap pun memukulinya di dada. Tanpa kompromi!! Tanpa memikirkan bahwa mereka telah melakukan tindakan "main hakim sendiri"!!! Yang notabene sudah diajarkan sejak masa sekolah dasar dulu dalam mata pelajaran Pendidikan Mata Pancasila mengenai moral. Ironisnya ini dilakukan oleh kaum intelektual, mahasiswa, yang sangat jelas menunjukkan identitas mereka dengan mengenakan jas almamater kuning strip hitam yang mereka sandang dengan bangganya, cuih!!!
Beberapa saat kemudian ditampilkan cuplikan Abdul Azis Angkat digotong ke dalam ambulance karena tak sadarkan diri dan dikabarkan meninggal dunia. Saya sempat melihat bibirnya biru saat dia diangkut ke dalam ambulance. Sejenak setelah saya melihat tayangan itu bulu kuduk saya merinding, saya sangat sedih, marah dan pikiran-pikiran lain campur aduk di kepala saya. Mengapa demokrasi yang sejak dulu diusung dan dipuja sebagai prinsip negara kita, semena-mena ditoreh noda kematian sebagai akibat dari hasil demokrasi itu sendiri? Dengan mengatasnamakan demokrasi, anarki pun meluluh-lantakkan dunia perpolitikan Indonesia. Tidak sedikit jumlah acara demo yang berujung anarki. Apakah anarki harus menjadi persinggahan terakhir untuk menikmati seteguk kemerdekaan dan sesendok kebebasan beraspirasi? Sungguh bodoh!! Bukan berarti saya pintar!! Tapi saya tidak cukup naif untuk berpendapat seperti ini. Ini negara saya juga, saya bebas berkomentar mengenai apa yang terjadi. Dengan terjadinya tragedi ini, semakin mengindikatorkan bahwa bangsa kita belum mampu untuk berubah ke arah yang lebih baik. Masih banyak rakyatnya yang masih belum tahu cara menyampaikan aspirasi. Semuanya pasti berujung emosi. Ini akan membuat negara kita semakin bodoh, dan bisa jadi mudah dibodoh-bodohi. Mahasiswa mudah saja dihasut untuk berlaku anarki seperti ini, hanya mendapat bayaran dua puluh lima ribu rupiah saja per orang. Kemana perginya julukan kaum intelektual sama dengan mahasiswa? Jangan sampai saya memperlebar wacana ini ke arah "tidak becusnya institusi pendidikan di Indonesia," karena saya berada di dalam salah satu institusi tersebut. Selain itu, saya juga tidak punya cukup waktu untuk melakukan perlebaran topik. Lain waktu mungkin.
Sungguh, sebenarnya saya bukan seorang nasionalis, dengan kejadian seperti ini membuat saya semakin tidak nasionalis. Tetapi dengan menulis ini, membuat saya merasakan sisi nasionalis saya muncul. Mungkin secara tidak sadar, saya masih memiliki sisi itu dalam diri saya. Syukurlah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar